Jumat, 13 Desember 2013

Mencari yang halal

MENCARI YANG HALAL


APABILA, Allah menganugerahimu sifat kanaah, banyaklah bersyukur kepada-Nya. Dengan kekuatan kanaah ini, seharusnya kamu terus mendekatkan diri kepada-Nya. Carilah jalan yang terbaik untuk mencapai kanaah, niscaya perhitungan amalmu lebih mudah. Raihlah akhiratmu dengan hasil usaha yang baik. Oleh karenanya, kamu harus secepatnya bersikap kanaah, agar hidupmu di dunia ini terasa tenang dan tenteram.

Minimnya yang Halal, Merebaknya yang Syubhat
Tidak diragukan lagi, sejak dulu sesuatu yang halal itu termasuk barang langka. Susah sekali ditemukan. Kita telah terperosok pada perilaku-perilaku syubhat (yang tidak jelas halal-haramnya). Memang kesyubhatan itu terbungkus rapi, tetapi sebenarnya kalian sadar bahwa perilaku kalian selama ini banyak bercampur dengan yang syubhat. Kapan kira-kiranya orang seperti kita ini bisa berperilaku wirai? Kapan kiranya kita bisa beramal dengan ikhlas?
Kehidupan kita dipenuhi ambisi hawa nafsu. Pakaian dan perhiasan tidak terlepas dari kesyubhatan. Dalam hal ini, seorang ulama berkata, “Pada hari kiamat nanti, ada beberapa kelompok orang yang dibangkitkan dari kuburnya. Bau mereka lebih menyengat daripada bangkai. Itulah orang-orang yang memiliki harta kekayaan dari hasil yang syubhat.” Setelah itu, ulama itu berkata, “Demi Allah, aku mungkin termasuk salah satu dari mereka.”

Wirai dalam Mencari Rezeki
Saudaraku, seorang ulama di atas mengkhawatirkan dirinya sendiri. Dia menyadari betapa bahayanya perilaku syubhat. Bagaimana dengan orang-orang seperti kita ini? Tidaklah kamu menyadari bahwa perilaku kita di dunia ini sudah tercemar dengan berbagai macam kesyubhatan? Bahkan mungkin lebih kotor daripada kesyubhatan itu sendiri?
Oleh karenanya, kalian harus terus mendekatkan diri kepada Allah. Hindarilah segala kesyubhatan dalam mata pencaharian. Ketahuilah, pondasi agama itu wirai. Saya pernah mendengar bahwa ibadah itu terdiri dari tujuh puluh bagian. Yang paling utama dari itu semua adalah mencari rezeki yang halal. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang yang mencari rezeki dengan cara yang halal bagaikan orang yang berperang di jalan Allah.

Ibadaah dengan Penghasilan Kotor
Ibadah yang banyak tetapi disertai dengan usaha yang kotor, hasilnya akan nihil. Dalam hal ini, seorang sahabat mengatakan, “Jika penghasilannya dari usaha yang baik dan halal, niscaya perilakunya pun akan bersih. Begitu pula sebaliknya.” Seorang ulama menuturkan bahwa setan telah berkata, “Aku menginginkan dari manusia satu hal. Ketika itu, aku bisa bersamanya meskipun dia sedang beribadah. Aku jadikan penghasilannya dari usaha yang tidak halal. Jika dia menikah, maka nikahnya dari hasil yang haram. Jika dia berbuka puasa, maka makanannya dari hasil yang haram. Jika dia berhaji, maka hajinya dari hasil usaha yang hara.”
Oleh karenanya, berhati-hatilah dalam mengais rezeki. Takutlah kepada Allah lantaran bekerja untuk mendapatkan hasil usaha yang haram. Taatilah barang-barang yang syubhat untuk kemudian ditingglkan. Dalam hal ini, Rasulullah SAW, bersabda, “Yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu sudah jelas. Diantara keduanya adalah kesyubhatan. Kebanyakan orang tidak mengetahui, apakah syubhat termasuk halal atau haram?” Nabi SAW juga bersabda, “Siapa yang berani menggunakan yang syubhat, maka dia hampir melakukan yang haram.” (HR al-Thabrani).
Dalam mata pencaharian, kalian jangan berada dalam satu profesi saja. Carilah terus profesi yang lebih menyelamatkan dirimu dari sebelumnya. Hal ini tiada lain agar kalian bertaqwa dengan hasil usaha yang halal.



Menghindari Riba
Riba itu memiliki tujuh puluh pintu lebih. Pekerjaan kalian harus dijaga ketat agar tidak masuk pada salah satu pintu tersebut. Kalian jangan berkhianat. Barang-barang yang najis harus dijauhi. Dalam transaksi, kalian tidak boleh curang, dusta, sumpah palsu, memuji, mencela, dan perilaku-perilaku yang merugikan lainnya. Jauhilah itu semua. Ketauhilah, indikasi ketaqwaan terletak pada kewiraian. Seseorang dikatakan bertaqwa jika telah berperilaku wirai dalam hidupnya. Sebuah riwayat menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Celakalah umatku yang bekerja tidak kenal waktu. Celakalah umatku yang menghalalkan haram dan syubhat dengan sengaja.”
Kalian harus terus mendekatkan diri kepada Allah. Rela dengan penghasilan yang sedikit disertai dengan kemenangan yang agung itu jauh lebih utama daripada harta yang berlimpah.

MENDEKAT DAN MENJAUH
Hati-hatilah terhadap orang yang
mendekatimu atau yang engkau dekati
sebab orang-orang yang menjauhimu
atau yang engkau jauhi pasti akan
selamat dari dirimu dan engkau pun
akan selamat dari diri mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar