MENCARI YANG HALAL
APABILA,
Allah menganugerahimu sifat kanaah, banyaklah bersyukur kepada-Nya.
Dengan kekuatan kanaah ini, seharusnya kamu terus mendekatkan diri
kepada-Nya. Carilah jalan yang terbaik untuk mencapai kanaah, niscaya
perhitungan amalmu lebih mudah. Raihlah akhiratmu dengan hasil usaha
yang baik. Oleh karenanya, kamu harus secepatnya bersikap kanaah, agar
hidupmu di dunia ini terasa tenang dan tenteram.
Minimnya yang Halal, Merebaknya yang Syubhat
Tidak
diragukan lagi, sejak dulu sesuatu yang halal itu termasuk barang
langka. Susah sekali ditemukan. Kita telah terperosok pada
perilaku-perilaku syubhat (yang tidak jelas halal-haramnya). Memang
kesyubhatan itu terbungkus rapi, tetapi sebenarnya kalian sadar bahwa
perilaku kalian selama ini banyak bercampur dengan yang syubhat. Kapan
kira-kiranya orang seperti kita ini bisa berperilaku wirai? Kapan
kiranya kita bisa beramal dengan ikhlas?
Kehidupan
kita dipenuhi ambisi hawa nafsu. Pakaian dan perhiasan tidak terlepas
dari kesyubhatan. Dalam hal ini, seorang ulama berkata, “Pada hari
kiamat nanti, ada beberapa kelompok orang yang dibangkitkan dari
kuburnya. Bau mereka lebih menyengat daripada bangkai. Itulah
orang-orang yang memiliki harta kekayaan dari hasil yang syubhat.”
Setelah itu, ulama itu berkata, “Demi Allah, aku mungkin termasuk salah
satu dari mereka.”
Wirai dalam Mencari Rezeki
Saudaraku,
seorang ulama di atas mengkhawatirkan dirinya sendiri. Dia menyadari
betapa bahayanya perilaku syubhat. Bagaimana dengan orang-orang seperti
kita ini? Tidaklah kamu menyadari bahwa perilaku kita di dunia ini sudah
tercemar dengan berbagai macam kesyubhatan? Bahkan mungkin lebih kotor
daripada kesyubhatan itu sendiri?
Oleh
karenanya, kalian harus terus mendekatkan diri kepada Allah. Hindarilah
segala kesyubhatan dalam mata pencaharian. Ketahuilah, pondasi agama
itu wirai. Saya pernah mendengar bahwa ibadah itu terdiri dari tujuh
puluh bagian. Yang paling utama dari itu semua adalah mencari rezeki
yang halal. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang yang mencari
rezeki dengan cara yang halal bagaikan orang yang berperang di jalan
Allah.
Ibadaah dengan Penghasilan Kotor
Ibadah
yang banyak tetapi disertai dengan usaha yang kotor, hasilnya akan
nihil. Dalam hal ini, seorang sahabat mengatakan, “Jika penghasilannya
dari usaha yang baik dan halal, niscaya perilakunya pun akan bersih.
Begitu pula sebaliknya.” Seorang ulama menuturkan bahwa setan telah
berkata, “Aku menginginkan dari manusia satu hal. Ketika itu, aku bisa
bersamanya meskipun dia sedang beribadah. Aku jadikan penghasilannya
dari usaha yang tidak halal. Jika dia menikah, maka nikahnya dari hasil
yang haram. Jika dia berbuka puasa, maka makanannya dari hasil yang
haram. Jika dia berhaji, maka hajinya dari hasil usaha yang hara.”
Oleh
karenanya, berhati-hatilah dalam mengais rezeki. Takutlah kepada Allah
lantaran bekerja untuk mendapatkan hasil usaha yang haram. Taatilah
barang-barang yang syubhat untuk kemudian ditingglkan. Dalam hal ini,
Rasulullah SAW, bersabda, “Yang halal itu sudah jelas dan yang haram itu
sudah jelas. Diantara keduanya adalah kesyubhatan. Kebanyakan orang
tidak mengetahui, apakah syubhat termasuk halal atau haram?” Nabi SAW
juga bersabda, “Siapa yang berani menggunakan yang syubhat, maka dia
hampir melakukan yang haram.” (HR al-Thabrani).
Dalam
mata pencaharian, kalian jangan berada dalam satu profesi saja. Carilah
terus profesi yang lebih menyelamatkan dirimu dari sebelumnya. Hal ini
tiada lain agar kalian bertaqwa dengan hasil usaha yang halal.
Menghindari Riba
Riba
itu memiliki tujuh puluh pintu lebih. Pekerjaan kalian harus dijaga
ketat agar tidak masuk pada salah satu pintu tersebut. Kalian jangan
berkhianat. Barang-barang yang najis harus dijauhi. Dalam transaksi,
kalian tidak boleh curang, dusta, sumpah palsu, memuji, mencela, dan
perilaku-perilaku yang merugikan lainnya. Jauhilah itu semua.
Ketauhilah, indikasi ketaqwaan terletak pada kewiraian. Seseorang
dikatakan bertaqwa jika telah berperilaku wirai dalam hidupnya. Sebuah
riwayat menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Celakalah
umatku yang bekerja tidak kenal waktu. Celakalah umatku yang
menghalalkan haram dan syubhat dengan sengaja.”
Kalian
harus terus mendekatkan diri kepada Allah. Rela dengan penghasilan yang
sedikit disertai dengan kemenangan yang agung itu jauh lebih utama
daripada harta yang berlimpah.
MENDEKAT DAN MENJAUH
Hati-hatilah terhadap orang yang
mendekatimu atau yang engkau dekati
sebab orang-orang yang menjauhimu
atau yang engkau jauhi pasti akan
selamat dari dirimu dan engkau pun
akan selamat dari diri mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar